SEJARAH PANCORAN

Patung Dirgantara Sejarah Patung Pancoran 1024x576

Asal Usul Patung Pancoran dan Kisah Haru di Baliknya, Ternyata Dulu Diperagakan oleh Sosok Ini.

sangat melekat dengan lanskap kota Jakarta, Kalau melintas di Jalan Gatot Subroto menuju Cawang atau sebaliknya, juga kawasan Kalibata-Pasar Minggu menuju Tebet atau sebaliknya pasti melewati patung yang sangat ikonik ini.Patung Pancoran, demikian masyarakat menyebutnya.

Patung Dirgantara lebih dikenal dengan nama Pautung Pancoran, dikarenakan lokasinya yang berada di sekitar Kecamatan Pancoran, Jakarta  Selatan.Diketahui, patung ini merupakan salah satu peninggalan Presiden Soekarno yang tidak pernah diresmikan hingga akhir hayatnya.Asal usul Patung Pancoran, dimulai ketika Presiden Soekarno atau Bung Karno memiliki gagasan untuk membangun sebuah monumen yang melambangkan dunia kedirgantaraan Indonesia.Pembuatan patung ini merupakan peringatan tonggak sejarah penerbangan Indonesia.Patung tersebut digambarkan dengan sosok perkasa yang memiliki perawakan gagah lalu berpose dengan tangan menjulur ke depan seolah ingin terbang ke angkasa.

Ekspresi wajahnya memiliki tatapan mata tajam lurus ke depan.Seorang pematung bernama Edhi Sunarso, bersama arsitek Sutami ialah sosok di balik pembuatan Patung Pancoran tersebut.Mereka membuat Patung Pancoran atas gagasan Presiden Soekarno pada tahun 1964-1965.Patung Pancoran atau Patung Dirgantara dibuat dengan menggunakan bahan dasar perunggu dengan berat yang mencapai 11 ton.Patung ini memiliki tinggi 11 meter, dengan tinggi kaki 27 meter.Dikenal memiliki bentuk yang ikonik, ternyata ada kisah haru di balik pembuatan Patung Pancoran.

Presiden Bung Karno, dulu turun langsung dalam memantau proses pembangunan Patung Pancoran di akhir pemerintahannya.

Sejarah Singkat Pancoran

Pancoran merupakan salah satu kawasan bersejarah di Jakarta Selatan yang berkembang dari wilayah perkampungan Betawi menjadi kawasan pemerintahan, permukiman, perdagangan, dan jasa. Identitas Pancoran dibentuk oleh tiga unsur utama: tradisi masyarakat Betawi, perkembangan administrasi Jakarta, dan keberadaan Patung Dirgantara sebagai ikon kawasan
  1. Asal-usul nama PancoranSecara kebahasaan, kata “pancoran” berkaitan dengan “pancuran”, yaitu tempat keluarnya atau memancarnya air. Kamus Bahasa Betawi juga menjelaskan pancoran sebagai kran atau air yang memancar. Karena itu, nama Pancoran kemungkinan berkaitan dengan keberadaan sumber atau pancuran air yang dahulu digunakan masyarakat. Kamus Bahasa Betawi, Dinas Kebudayaan DKI Jakarta
    Dalam tradisi lisan Betawi, terdapat pula cerita “Pancuran dan Pangeran”. Kisah tersebut menceritakan Pangeran Jaya, Pangeran Suta, dan Pangeran Gerinda yang menjalani ujian untuk menentukan pewaris kerajaan. Ketiganya menemukan pancuran air dalam perjalanan. Pangeran Jaya kemudian menunjukkan keberanian, ketabahan, dan kerelaan berkorban demi kedua saudaranya. Pancuran dalam cerita itulah yang kemudian dikaitkan dengan nama Pancoran.Namun, cerita tersebut perlu ditempatkan sebagai legenda atau warisan budaya lisan, bukan sebagai bukti sejarah administratif yang telah terverifikasi.
  2. Pancoran pada masa kolonialPada masa kolonial, wilayah Pancoran masih didominasi perkampungan, lahan pertanian, kebun, serta jaringan jalan yang menghubungkan Batavia dengan daerah di sebelah selatan dan timur. Secara administratif, Pancoran pernah menjadi bagian dari wilayah yang lebih luas di bawah kawasan Meester Cornelis atau Jatinegara.Wilayah Jakarta Selatan pada masa itu berkembang sebagai daerah penyangga Batavia. Kepadatan bangunan belum setinggi pusat kota, sehingga kawasan selatan banyak dimanfaatkan sebagai permukiman dan ruang terbuka. Setelah kemerdekaan, perkembangan Jakarta ke arah selatan membuat Pancoran semakin strategis karena berada di jalur penghubung pusat Jakarta, Pasar Minggu, Kalibata, Tebet, dan kawasan timur Jakarta.
  3. Patung Dirgantara sebagai ikon PancoranPerubahan paling penting dalam identitas Pancoran terjadi pada dekade 1960-an ketika Presiden Soekarno menggagas pembangunan Monumen Patung Dirgantara. Patung tersebut dirancang oleh pematung Edhi Sunarso dan dikerjakan pada sekitar 1964–1966.Patung Dirgantara menggambarkan sosok manusia yang berdiri tegak dengan tangan menunjuk ke depan. Monumen ini melambangkan keberanian, semangat kemajuan, dan cita-cita Indonesia untuk menjadi bangsa yang unggul dalam bidang penerbangan serta kedirgantaraan. Lokasinya juga berdekatan dengan kompleks yang dahulu berkaitan dengan Markas Besar Angkatan Udara.Karena sangat menonjol dan terletak di persimpangan strategis Jalan Gatot Subroto, Jalan M.T. Haryono, dan Jalan Dr. Supomo, masyarakat lebih sering menyebutnya “Patung Pancoran”. Dalam perkembangan berikutnya, patung tersebut menjadi penanda geografis sekaligus simbol utama Kecamatan Pancoran.
  4. Pembentukan Kecamatan PancoranPembentukan Kecamatan Pancoran sebagai wilayah administratif tersendiri terjadi pada 1990. Peraturan Pemerintah Nomor 60n Tahun 1990 membentuk sejumlah kecamatan baru di DKI Jakarta, termasuk Kecamatan Pancoran di Jakarta Selatan.Kecamatan Pancoran dibentuk melalui pemekaran wilayah Kecamatan Mampang Prapatan dan Kecamatan Tebet. Pembentukan ini dilakukan karena pertumbuhan penduduk, perkembangan permukiman, dan meningkatnya kebutuhan pelayanan pemerintahan di Jakarta Selatan.Saat ini Kecamatan Pancoran terdiri atas enam kelurahan:
    1. Kelurahan Pancoran
    2. Kelurahan Duren Tiga
    3. Kelurahan Kalibata
    4. Kelurahan Rawajati
    5. Kelurahan Pengadegan
    6. Kelurahan Cikoko
  5. Pancoran dalam perkembangan Jakarta modernSetelah terbentuk sebagai kecamatan, Pancoran berkembang pesat karena posisinya berada di antara pusat bisnis Jakarta dan kawasan permukiman di bagian selatan. Pembangunan Jalan Gatot Subroto, Jalan M.T. Haryono, Jalan Raya Pasar Minggu, jalur kereta api, jalan layang, dan jaringan jalan tol semakin memperkuat peran Pancoran.Karakter wilayah Pancoran kemudian berkembang menjadi perpaduan antara kawasan permukiman dan perkampungan pusat pemerintahan kecamatan dan kelurahan kawasan perdagangan dan jasa perkantoran serta pusat bisnis simpul transportasi regional pusat pendidikan, sosial, dan kebudayaan kawasan bersejarah yang masih mempertahankan identitas Betawi.

 

Pancoran merupakan wilayah yang tumbuh dari perkampungan masyarakat Betawi menjadi salah satu kawasan strategis di Jakarta Selatan. Nama Pancoran dipercaya berkaitan dengan pancuran atau sumber air yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Dalam tradisi lisan Betawi, nama tersebut juga dihubungkan dengan cerita Pangeran Jaya yang menggambarkan keberanian, ketabahan, dan kerelaan berkorban.Perjalanan Pancoran memasuki babak baru ketika Presiden Soekarno menggagas pembangunan Patung Dirgantara pada dekade 1960-an. Patung karya Edhi Sunarso tersebut kemudian dikenal luas sebagai Patung Pancoran dan menjadi simbol semangat bangsa Indonesia untuk bergerak maju. Seiring perkembangan Jakarta, Pancoran tumbuh menjadi kawasan pemerintahan, permukiman, perdagangan, jasa, dan transportasi yang menghubungkan pusat kota dengan wilayah selatan dan timur Jakarta.Secara administratif, Kecamatan Pancoran dibentuk pada 1990 dan kini mencakup enam kelurahan, yaitu Pancoran, Duren Tiga, Kalibata, Rawajati, Pengadegan, dan Cikoko. Dengan kekayaan sejarah, posisi strategis, dan masyarakat yang dinamis, Pancoran terus berkembang sebagai wilayah yang

TANGGUH : Tertib, Aman, Nyaman, Giat, Gesit, Unggul, dan Humanis.

patung
patung 1
Logo Hitam 1 300x100

Sistem Pelayanan dan Informasi Terintegrasi

Kecamatan Pancoran Kota Administrasi Jakarta Selatan
Tentang Kami
This content is blocked because it would connect to Google Maps.